Kamis, 02 November 2017

[RECAP/ IND] 稍息立正我愛你 (Attention, Love!) Ep. 13

Bai Bai bertanya apakah Li Zheng memperlakukannya dengan baik karena dia ingin membuat Shao Xi cemburu. Dia melihat Shao Xi pulang dan langsung sengaja menarik dan mencium Li Zheng pas di pipi. Li Zheng sangat terkejut tentu saja. Li Zheng menjauhkan dirinya dan melihat matanya Bai Bai sedang memperhatikan sesuatu di belakangnya jadi dia berbalik. Dia lalu melihat Shao Xi dan Jin Li memutar balikkan motornya dan pergi menjauh. Li Zheng memanggil Shao Xi tetapi tak diindahkan. Bai Bai berkata kalau Shao Xi tidak akan mempercayai kata-katanya walaupun dia jelaskan. Dia mengaku kalau dia mengelabuhi Shao Xi, di bis tadi, kalau Li Zheng menciumnya di hotel. Jadi kombinasi antara kebohongan ini dan ciuman yang baru saja dia saksikan, pastinya Shao Xi akan mempercayai rekayasa Bai Bai. Li Zheng bertanya apa sebenarnya tujuan dia. Bai Bai mengaku semuanya agar dia tahu bagaimana rasanya digunakan. Oke deh, kapan sih Li Zheng menyalahgunakan dia? Dari undangan belajar bersama sampai sekarang, Bai Bai-lah yang memulai segalanya. Li Zheng seringkali menolak ajakan-ajakannya. Palingan, bisa dikatakan kalau Li Zheng menoleransikan dia. Menggunakan dia?! Bai Bai berkhayal nih. Hmmm… sepertinya aku bisa mencium aka nada masalah di episode-episode kemudian.
Jin Li mengajak Shao Xi pergi makan. Shao Xi terus mengabaikan telponnya Li Zheng dan Jin Li melihat itu semua. Pernah dengar mode diam (silent mode)?! Dramatis sekali. Hahaha. Shao Xi bertanya apakah Bai Bai lebih cantik dan lebih kewanita-wanitaan daripadanya. Jin Li mengaku kalau sekilas, memang iya. Shao Xi menangis dan berkesimpulan kalau begitu, memang pantaslah Li Zheng jatuh cinta padanya. Jin Li lalu menegurnya karena meremehkan dirinya. Shao Xi adalah cinta pertamanya jadi kalau dia jelek, berarti dengan tidak langsung, dia mengejek selaranya Jin Li. Shao Xi berterima kasih padanya karena telah menghiburnya. Jin Li menegaskan kalau dia tidak hanya menghiburnya dan menariknya keluar. Hahaha… Ini aku harap mereka keluar restoran setelah membayar tagihan dan tidak hanya makan dan jalan saja.




Jin Li mendudukkan Shao Xi di depan pelukis jalanan. Jin Li bertanya apakah sang pelukis bisa melukis seseorang berdasarkan deskripsi kata-kata. Setelah mendapatkan persetujuan darinya. Jin Li menyuruh Shao Xi mengeluarkan kaca, melihat dirinya, dan menjelaskan wajahnya ke seniman. Shao Xi memberikan penjelasan yang kurang menarik. Jin Li melihat hasil kerjaan si pelukis dan menggelengkan kepalanya. Dia lalu memintanya menggambarkan satu lagi berdasarkan penglihatannya. Jin Li lebih tepat menjelaskannya dan menggunakan kata-kata saying seperti “hamster imut”, “bulat tetapi bersinar”, “berjiwa adil seperti pahlawan”, “terbuka dan riang”, dan “lebih cantik dari yang dirasanya”. Tarik napas dalam… Aku sangat terbelah di sini. Aku tidak keberatan kalau Shao Xi akhirnya berpacaran dengan Jin Li tetapi juga, bagaimana dengan Xiao Ciao yang imut dan bersemangat itu? Jin Li mengambil kedua gambar dari si pelukis dan menunjukkan dua hasil yang berbeda ke Shao Xi. Yang berdasarkan kata-kata Shao Xi, terlihat sedih dan murung tetapi yang berdasarkan kata-kata Jin Li, terang dan cantik. Jin Li tersenyum hangat dan berkata kalau menurut pendapatnya, Shao Xi lebih baik daripada Bai Bai.


Jin Li dan Shao Xi sedang berdiam di tepi laut. Shao Xi mengaku kalau kemarin malam, Li Zheng menciumnya dan menyatakan perasaannya. Dia bahagia. Tetapi berpikir lagi sekarang, Li Zheng tidak pernah mengucapkan namanya. Itu semua hanyalah angan-angan dia saja. Dia merasa bodoh. Jin Li diam mendengarkan dan duduk di sisinya. Shao Xi mengaku kalau pikirannya masih dipenuhi oleh Li Zheng walaupun setelah semua ini terjadi. Dia merasa lelah dan bertanya mengapa mudah untuk jatuh cinta tetapi sulit untuk berhenti. Jin Li mendekat ingin menciumnya tetapi lalu, dia berhenti karena melihat air mata Shao Xi berlinang. Akhirnya, Jin Li menyeka tangisannya. Jin Li memintanya untuk membiarkan dirinya mengasihinya saja dan tidak masalah kalau dia tidak membalas perasaannya. Dia lalu mengambil kepala Shao Xi dan menyenderkannya ke pundaknya. Aku sungguh suka pengambilan film di sini; kamera yang menjauh dari kedua karakter ini: sangat cantik, sedikit terlepas, dan sangat pas rasanya.


Jin Li mengantar Shao Xi ke rumah orang tuanya. Dia menyuruhnya untuk tidak khawatir dan tidak memikirkan apa-apa malam ini. Dia lalu berpamit pulang. Saat Shao Xi masuk ke rumah, dia melihat orangtuanya yang sedang bercumbuan. Hahaha. Sungguh menakjubkan bagaimana orangtuanya masih bisa memberikan Shao Xi trauma masa kecil di usianya. Sekali lagi, ini adalah  langkah yang terduga dari sebuah drama yang memang menolak untuk terlalu serius. Shao Xi menjelaskan kalau dia tidak punya kelas besok jadi dia pulang untuk beristirahat. Papa dan Mama Zhong dengan tenang menyambutnya tapi saat dia jauh dari pandangan mereka, Papa Zhong menyerukan kecurigaannya: mungkin ada masalah. Shao Xi naik ke lantai dua dan mampir ke kamar Li Zheng. Shao Xi berharap agar dia bisa cepat menghentikan perasaannya sehingga dia dapat menerima Li Zheng yang suka gadis lain. Dengan itu juga, dia lalu bisa tersenyum riang walaupun harus terus tinggal di daerah yang penuh kenangan mereka berdua. Shao Xi mengilas balik semua momen yang dia lalui dengan Li Zheng. Dia khawatir dia tidak akan bias melupakan perasaannya. Shao Xi berbaring di tempat tidur Li Zheng dan terus menangis. Tarik napas dalam... Li Zheng, ini semua salahmu!


Li Zheng sedang menunggu Shao Xi di luar rumah. Dia terus memandang pesan-pesannya untuk Shao Xi yang tidak terjawab antara lain pesan-pesan yang memohonnya untuk angkat telpon, untuk tidak salah sangka dan untuk mendengarkan penjelasannya. Jin Li tiba di rumah. Li Zheng langsung bertanya dimana Shao Xi. Jin Li tidak menjawab dan sebaliknya, menyuruhnya untuk ikut ke taman terdekat. Jin Li menonjok Li Zheng dan keduanya mulai saling memukul. Jin Li marah karena Li Zheng tidak mempertimbangkan perasaan orang lain dan malahan menggoda dua gadis yang berbeda. Li Zheng balik marah dan bertanya bukannya Jin Li sedang menunggu kesempatan untuk mengelinap antara dia dan Shao Xi? Jin Li menegaskan bahwa dia ingin melindungi Shao Xi. Dia bahkan ingin menciumnya tapi Shao Xi tidak berhenti menangis walaupun dia sudah bersusah payah menghiburnya. Melihat Shao Xi yang terus menyembunyikan tangisannya, Jin Li sadar kalau dia tidak akan bisa menggantikan Li Zheng di hatinya. Jin Li akhirnya bertanya apakah Li Zheng menyukai Shao Xi.


Li Zheng perlahan duduk dan mengaku kalau dia menyukai Shao Xi! Jin Li dengan kesal memerintahkannya untuk langsung menyatakan perasaannya. Li Zheng tetapi terus dengan tenang bertanya pada Jin Li apakah dia ada penyesalan. Li Zheng berkata kalau sejak Da Mao membeberkan catatan harian Shao Xi, dia memiliki banyak penyesalan: karena tidak berkata apa-apa ataupun menghibur saat dia menangis dan juga karena tidak cepat sadar akan perasaannya sendiri. Mendengar ini hanya membuat Jin Li semakin muak. Dia anjurkan agar tidak terlalu rumit dan cepat bertindak. Hahaha. Ya, aku sependapat dengan Jin Li di sini. Li Zheng kembali lagi menjelaskan kalau dia cemburu atas interaksi antara Jin Li dan Shao Xi. Shao Xi selalu tersenyum kalau ada dengannya. Tapi dia tetap tidak rela kalau Shao Xi berkencan dengan Jin Li. Jin Li menegur ketidaksadarannya Li Zheng: perempuan bisa tersenyum ke siapa saja tapi mereka hanya akan menangis untuk yang dikasihinya. Kebenaran ini akhirnya mencerahkannya dan Li Zheng dengan tenang merenungkannya.


Jin Li sedang tidur di kamarnya ketika dia mendengar suara berisik datang dari kamar Shao Xi. Dia keluar dan bertanya apakah dia sedang melakukan pembersihan besar? Shao Xi berkata kalau dia akan pulang ke rumahnya. Jin Li dengan sarkastis memujinya karena Shao Xi pindahan pas sewaktu Li Zheng tidak ada. Shao Xi akui kalau dia menghindari Li Zheng karena dirinya belum siap untuk merestui Li Zheng dan Bai Bai. Awalnya, Jin Li ingin menyatakan kalau Li Zheng juga suka padanya tapi kemudian, dia berubah pikiran karena semalam, Li Zheng sudah menolak bantuannya. Sebagai gantinya, Jin Li menawarkan diri untuk membantu mengemas barang dan membawanya ke rumah Shao Xi. Shao Xi memberi obat untuk wajah Li Zheng yang memar dan kemudian turun untuk mengambil kantong sampah. Ditinggal sendirian, Jin Li duduk untuk  mengobati memarnya, dia melihat boneka Shao Xi yang memiliki kemampuan merekam dan diam menatapnya. Hmmm... Mungkinkah? Penasaran... Li Zheng juga memegang boneka ini saat dia bertukar kamar dengan Shao Xi.


Di adegan berikutnya, Jin Li mengajak Bai Bai untuk berkolaborasi karena dia menyukai Shao Xi dan Bai Bai, Li Zheng. Sepertinya Jin Li sedang memasang jebakan di sini. Shao Xi sedang bermalas-malasan di tempat tidurnya saat dia mendengar Jin Li melemparkan bebatuan ke jendelanya untuk mengajaknya berkencan. Li Zheng pulang ke apartemen dan melihat pintu Shao Xi sedikit terbuka. Dia datang menghampiri dan memanggil namanya. Dia mendorong pintu dengan ringan dan saat melihatnya kamarnya kosong, Li Zheng lari keluar. Jin Li dan Shao Xi sedang bersenang-senang di sebuah tempat permainan. Awalnya, Shao Xi enggan ikut tapi Jin Li membujuknnya dan berhasil. Dalam waktu singkat, diapun mulai bersenang-senang. Jin Li juga menyita ponselnya karena dia tidak ingin Shao Xi terbagi-bagi perhatiannya. Dia melihat teleponnya dimatikan. Dia bertanya-tanya dengan lantang apakah karena Shao Xi tidak ingin Li Zheng menghubunginya atau malahan khawatir tidak akan dihubungi Li Zheng. Tepat sekali tuh dugaan Jin Li yang kedua! Dinamika antara Shao Xi dan Jin Li sangat sederhana dan riang, memang seharusnya beginilah masa-masa kuliah.


Li Zheng pergi ke rumah Papa dan Mama Zhong dan masuk ke kamar Shao Xi. Dia melihat semua barang-barangnya yang terkemas. Mama Zhong masuk dan memberitahu kalau Shao Xi sedang pergi dengan Jin Li. Dia bertanya apakah mereka bertengkar karena Shao Xi tiba-tiba ingin pulang ke rumah. Li Zheng terdiam dan tidak menjawab apapun. Tidak sopan! Atau mungkin, itu karena hasil edit-an? Jin Li membawa Shao Xi ke suatu taman yang disulap menjadi bioskop terbuka untuk memenuhi janjinya yang dulu. Tarik napas dalam... Ini jelas adalah adegan penutupan untuk Jin Li. Dia memasang film yang terputar saat mereka pertama kali bertemu. Mereka mengenang pertemuan pertama mereka di bioskop, dimana Shao Xi menangis, dan juga malam-malam di suatu toko, dimana Jin Li-lah yang gantian menangis. Jin Li secara tidak langsung mengucapkan terima kasih karena dia akan tetap brengsek jika tidak bertemu dengannya. Shao Xi akhirnya mengambil balik kata-katanya yang mengejek Jin Li sebagai orang yang tidak tahu bagaimana mengasihi seseorang. Jin Li merasa puas karena akhirnya diakui perasaannya dan menemukan penutupan.


Jin Li kemudian memberikan Shao Xi 2 hadiah. Yang pertama adalah rekaman suara Bai Bai yang mengaku kalau dia bohong tentang ciumannya dengan Li Zheng. Dan hadiah satunya lagi adalah boneka rekaman Shao Xi yang tersimpan di dalamnya, pengakuan Li Zheng kalau dia juga suka padanya. Sadar kalau itu memang Li Zheng, Shao Xi tertegun. Di adegan berikutnya, Jin Li mengantar Shao Xi pulang ke apartemen. Dia berkata kalau setelah ini, dia tidak akan mencampuri urusan Shao Xi dan Li Zheng lagi. Ini adalah yang terakhir. Dia kemudian dengan tenang, tapi sedih, pergi.


Shao Xi menunggu di kamar. Dia mencari teleponnya di dalam tas tapi sadar kalau masih dipegang oleh Jin Li. Dia bermain dengan boneka rekaman sambil mengingat kembali pengakuannya di tepi sungai, dia menekan tangan boneka dan pengakuan Li Zheng terdengar. Dia tidak sabar menunggu dan akhirnya, turun ke bawah. Pas di saat itu, dia berpapasan dengan Li Zheng yang baru pulang. Li Zheng mendekati Shao Xi. Shao Xi menjelaskan kalau dia bereaksi berlebihan sebelumnya dan sekarang sudah tahu kalau Li Zheng tidak berkencan dengan Bai Bai. Tiba-tiba, Li Zheng memeluknya erat-erat. Dia menyuruhnya untuk tidak bersembunyi lagi, tidak pindah jauh, tidak mengkhawatirkannya, tidak meninggalkan sisinya, dan akhirnya, tidak melihatnya sebagai teman. Hmmm ... Jadi, bagaimana seharusnya dia mengganggapmu? Shao Xi menangis, air mata gembira atau lega, sepertinya, dan balik memeluknya. Akhirnya!


Jin Li berada di sebuah tempat karaoke bersama Xiao Ciao dan teman-temannya. Ah Ke dan Xiao Jian akhirnya menyadari kalau Jin Li sedang merajuk sendirian di tengah ruangan. Setia kawan sekali ya!? Sebuah melodi lagu yang dikenal mulai dan Jin Li mulai menyanyikan lagu yang selalu mengingatkannya akan Shao Xi. Dia mulai mengenang Shao Xi kembali dan tanpa sadar, air matanya jatuh. Xiao Ciao diam memperhatikannya tetapi lalu dia memotong lagu itu. Tindakan itu menyadarkan Jin Li dari lamunannya dan dia tiba-tiba pergi. Xiao Ciao mengikutinya. Dia menaiki sepedanya dan Xiao Ciao memanjat di belakangnya. Jin Li menyuruhnya turun tapi dia menolak. Jin Li menyuruhnya untuk tidak menyesali keputasan ini nantinya. Dia membawa Xiao Ciao ke kamar hotel. Dia masih bertanya apakah dia tidak akan menyesal. Xiao Ciao memastikan kalau dia tidak akan. Jin Li mendekat tetapi tidak bias menahan air matanya yang tiba-tiba turun. Dia turun dari ranjang dan mulai menceritakan kepedihan hatinya. Xiao Ciao menghampiri dan juga berkata kalau hatinya juga hancur saat ini. Tarik napas dalam... Adegan ini sangat menyedihkan.


Jin Li sampai di depan gerbang apartemen tapi enggan masuk ke dalam. Dia membayangkan Li Zheng dan Shao Xi bercumbu di ruang tamu dan tidak ingin menyaksikannya. Dia bahkan memarahi dirinya karena telah mendorong hubungan mereka . Hahaha. Akhirnya dia masuk ke dalam dan di ruang tamu, dia hanya melihat Shao Xi yang sedang bersarapan sendirian. Jin Li bingung dan bertanya dimana Li Zheng. Shao Xi acuh tak acuh mengatakan bahwa dia mungkin berada di kamarnya. Jin Li sangat terkejut dan dengan keras memintanya untuk menceritakan kejadian kemarin. Shao Xi mengingat semua yang terjadi tapi saat masih menjelaskan, Jin Li memotongnya dan bertanya apakah Li Zheng telah mengaku dan apakah mereka resmi berkencan sekarang. Shao Xi menggelengkan kepalanya. Frustasinya Jin Li memang benar-benar bias dipahamkan; kontrol diri Li Zheng itu memang luar biasa untuk usianya. Li Zheng bergegas naik ke lantai atas untuk menginterogasi Li Zheng.


Dia dengan keras mengetuk pintu Li Zheng sementara Shao Xi di belakang menahannya. Dia melepaskan tahanannya saat Li Zheng akhirnya membuka pintunya. Jin Li menyerobot masuk dan mengunci pintu. Jin Li bertanya mengapa dia menyia-nyiakan kesempatannya kemarin? Shao Xi masuk ke kamarnya dan mencoba masuk dari pintu balkon. Jin Li mencegah Li Zheng agar tidak membuka pintu. Dia menawarkan beberapa nasihat untuk Li Zheng: bagaimana dia harus mengklarifikasi perasaannya dan tidak ragu-ragu. Li Zheng menepisnya dan berkata kalau ini antara dirinya dan Shao Xi saja. Li Zheng berhasil lolos, membawa Shao Xi kembali ke kamarnya, dan mengunci pintu. Lalu, dia dengan lembut mendekati Shao Xi dan mengajaknya kencan. Wow, harus diakui; suka sekali dengan tatapan Li Zheng yang tajam dan pendekatannya yang serius.


Li Zheng membawa Shao Xi kembali ke SMA mereka. Mereka masuk kelas Shao Xi dan Li Zheng menuliskan satu rumus Einstein tentang Relativitas Khusus di papan tulis. Dia menjelaskan kepada Shao Xi kalau menurut teori ini, selama seseorang bisa melampaui kecepatan cahaya, seseorang bisa kembali ke masa lalu. Dia kemudian bertanya kalau memungkinkan, apakah ada hari tertentu di masa lampay yang ingin dia ulangi? Shao Xi tidak bisa memilih satu waktu yang spesifik jadi dia balik bertanya apakah Li Zheng punya waktu tersebut. Dia mengaku bahwa dia sering berharap bias kembali ke hari saat Da Mao membeberkan buku hariannya. Seandainya dia tidak melarikan diri dan membuat keputusan yang berbeda, dia bertanya-tanya bagaimana hubungan mereka sekarang? Misalnya, jika dia juga mengaku waktu itu, jika dia menghibur saat Shao Xi merobek halaman dari buku hariannya, atau jika dia mengiyakan ajakan berkencan di tepi sungai. Li Zheng mengatakan jika dia melakukan hal-hal itu, pastinya dia punya banyak penyesalan dan Shao Xi juga, tidak akan menumpahkan begitu banyak air mata karena dia. Tapi dia sadar bahwa tidak ada gunanya menyesal karena dia tidak pernah bisa menentang aturan fisika dan mengulang kembali. Jadi dia memutuskan untuk mengubah dirinya yang di masa kini. Dia mendekati Shao Xi, menyeka air matanya, dan menciumnya dengan lembut. Akhirnya!
Komentar
Banyak sekali ya adegan kilas balik!? Aku suka melihat Li Zheng akhirnya berbuat sesuatu tetapi aduh, adegan kilas balik di episode ini hampir 10 menit. Lambat sekali laju episode ini. Adegan pengakuan Li Zheng juga biasa saja. Mungkini karena sudah lama berlarut-larut jadi ketertarikanku sudah bukan seperti awal-awal. Aku rasa setelah semua lika-liku drama ini, adegan puncak ini kurang menggetarkan. Sepertinya kurang sesuatu… Catatan untuk penulis: mungkin lain kali, lebih cepat deh menuju ke adegan pernyataan.
Episode ini menambahkan beberapa pertanyaan tentang keterlanjutan khususnya di topik Bai Bai dan hubungan Xiao Ciao dan Jin Li. Tersirat jelas maksud sang penulis yang ingin membuat Bai Bai sebagai antagonis berikutnya; jadi marilah kita duduk tenang dan lihat konflik apa yang akan muncul. Aku lumayan menantikan ini sih. Karena sepertinya dia adalah gadis palsu yang bisa bermain kotor. Nah, bukannya itu sudah terdengar seru? Aduh semoga tidak mengecewakan.


Drama Taiwan biasanya memperhatikan fan service. Jadi aku juga, berharap Xiao Ciao dan Jin Li akan mendapatkan akhir yang bahagia juga. Aku benar sangat berharap untuk mereka. Aku pastinya akan merasa sedih kalau mereka akhirnya tidak bersama.


Kamis, 26 Oktober 2017

[RECAP/ EN] 稍息立正我愛你 (Attention, Love!) Ep. 13



Bai Bai asked if Li Zheng treated her nicely because he needed to make Shao Xi jealous. She saw Shao Xi coming back home and staring at them, so she proceeded to kissing Li Zheng on the cheek, much to Li Zheng’s surprise. He pulled her off, noticed her wondering eyes and turned around to see what she was looking at. He then saw Shao Xi and Jin Li driving off on his motorcycle. He called out to Shao Xi but was ignored. Bai Bai taunted him by suggesting Shao Xi would not believe him even if he explained. She confessed that she lied to Shao Xi on the bus earlier saying that he kissed her at the hotel. So the combination of her lie on the bus and the kiss that she just witnessed, surely Shao Xi would readily believe her lies. Li Zheng asked for her intent. Bai Bai claimed it was so he knew how it felt to be used. Okay, when exactly did Li Zheng use her? From the study group invitation until now, Bai Bai initiated their relationship. Li Zheng had repeatedly rejected her advances. At best, one could say Li Zheng tolerated her. Using her?! Bai Bai was delusional. Hmmm… I smell trouble in future episodes to come.



Jin Li took Shao Xi out for a meal. Shao Xi kept ignoring Li Zheng’s calls and Jin Li noticed it. Ever heard of mode diam (silent mode)?! So dramatic. Lol! Shao Xi asked if Bai Bai was prettier and womanlier than her. Jin Li admitted that on the surface, she did. Shao Xi cried and concluded that it was then reasonable for Li Zheng to like her. Jin Li then scolded her for looking down on herself as she was his first love; saying she was lacking also meant stamping Jin Li’s taste in woman as below par. Shao Xi thanked him for comforting her. Jin Li argued that he was not only merely comforting her and dragged her off. Lol. This was assuming that they paid their bills and did not just dined and dashed, I hope.



Jin Li sat her down in front of a street artist. Jin Li asked if the artist could draw a person based on descriptions. After getting the artist’s agreement, Jin Li instructed Shao Xi to take out a mirror, look at herself with it, and describe her face to the artist. Shao Xi proceeded to give lackluster accounts of her face. Jin Li saw the artist’s drawing and shook his head. He then asked the artist to draw another one based on his accounts. Jin Li gave a more honest depiction and using endearing words such as “dumb hamster”, “round but sparkly”, “heroic justice”, “open and cheerful” and “prettier than she thinks”. Sigh… I am very torn here. I do not mind Shao Xi ending up with Jin Li but at the same time, what about the spunky and adorable Xiao Ciao?! Jin Li took both drawings from the artist and showed the vastly different images to Shao Xi. The one based on her description was sad and ugly but the one based on Jin Li’s words was bright and beautiful. Jin Li smiled gently and said that in his eyes, Shao Xi was better than Bai Bai.




Jin Li and Shao Xi were silently hanging out by the sea. Shao Xi admitted that last night, Li Zheng kissed her and confessed. She was happy. But now that she thought about it, he never said her name. It was just a wishful thinking. She felt stupid. Jin Li quietly listened and sat down next to her. Shao Xi confessed that her mind was still occupied by Li Zheng even after all these times. She felt tired and wondered why it was easy to fall in love but difficult to stop. Jin Li leaned in intending to kiss her but then, he stopped at the sight of her flowing tears. Instead, he wiped her cry. Jin Li told her to let him love her and it was okay if she did not reciprocate his feelings. He then took her head and propped it onto his shoulder. I really love the cinematography here as the camera moves away from the two characters: so pretty, so detached, and so fitting.



Jin Li dropped Shao Xi in her parents’ homes. He told her not to worry and not to think about it tonight. He then, bid her farewell. When she walked into her house, she caught her parents getting frisky. Lol. It is amazing how her parents could still provide her with future childhood trauma at her age. Again, another expected move from a drama that refuses to take itself too seriously. Shao Xi explained that she had no class tomorrow so she came home to rest. Her parents calmly welcomed her home but when she was away from their sights, Papa Zhong remarked that there seemed to be something wrong with her. Shao Xi went up to the second floor, stopped by Li Zheng’s room, and walked in. Shao Xi hoped that she would overcome her feelings in time so that she could accept Li Zheng’s attraction to another girl and at the same time, smile and be glad as she continued living in an area that was full of their memories together. Shao Xi flashbacked to the many memories she shared with Li Zheng. She worried that period of acceptance would never arrive. She laid down on his bed and continued crying. Sigh… Li Zheng, this is all your fault!




Li Zheng was waiting outside the house for Shao Xi. He kept looking at his many unanswered texts that, among other things, begged her to answer his calls, to not believe what she saw, and to listen to his explanation. Jin Li came home. Li Zheng immediately asked where was Shao Xi. Jin Li did not reply and instead, told him to follow him to the nearest park. Jin Li punched Li Zheng and the two boys started to fight. Jin Li scolded him for not considering his feelings and for leading on two girls. Li Zheng angrily asked was Jin Li not waiting for a change to squeeze between him and Shao Xi? Jin Li stressed that he wanted to protect Shao Xi. He even wanted to kiss her but she kept crying even though he had already done his best in comforting her. As Shao Xi tried to hide her cries, Jin Li realized that he could never replaced Li Zheng in her heart. Jin Li finally asked if Li Zheng liked her.




Li Zheng slowly sat down and admitted that he liked Shao Xi! Jin Li then exasperatedly ordered him to tell her. Li Zheng instead asked Jin Li if he ever regretted anything. He admitted that since the incident when Da Mao read aloud Shao Xi’s diary to the whole class, he had many regrets: for not saying anything or comforting her when she was sobbing and also for not quickly realizing his own feelings. Hearing this just made Jin Li even more fed up. He told him not to be so complicated and just confess. Lol. Yeah, I am on Jin Li’s side on this. Just make a move! Li Zheng again explained that he felt jealous over his interactions with Shao Xi. Shao Xi always smiled when she was around him. But Li Zheng was not willing to let her go to him. Jin Li corrected his ignorance: girls could smile to acquaintances but girls would only cry for her love. This truth finally enlightened him and he quietly pondered it.




Jin Li was sleeping in his room one morning when he heard noises coming from Shao Xi’s room. He walked out and asked if she was doing a major clean up? Shao Xi admitted that she was moving back home. Jin Li sarcastically complimented her for moving out when Li Zheng was not around. Shao Xi admitted that she was avoiding Li Zheng because she was not ready to give her blessings on Li Zheng and Bai Bai's relationship. At first, Jin Li wanted to blurt out that Li Zheng also reciprocated her affections but then, he changed his mind as he remembered Li Zheng refusing his offer to help last night. Instead, Jin Li offered to help her pack and carry her things home. Shao Xi handed him some medicines for his face and then, went down to get some garbage bags. As Jin Li sat down to apply some medicine, he picked up the Shao Xi’s doll that had a recording ability. Hmmm… Could it be? I wonder… Li Zheng also held this doll when he switched room with Shao Xi before.




The next scene was Jin Li meeting up with Bai Bai asking her to collaborate as he liked Shao Xi and she, Li Zheng. Now, I think our boy is setting a trap here. 

Shao Xi was lazing around on her bed when she heard Jin Li throwing stones on her window to ask her out. 

Li Zheng came home to his room and saw Shao Xi’s door slightly ajar. He came over and called out her name. He pushed the door lightly and upon seeing it empty, he dashed out. 

Jin Li and Shao Xi were at a game arcade. At first, Shao Xi was reluctant to participate but then Jin Li persuaded her to follow along. In a short while, she began to have fun. Jin Li also took her phone away as he wanted her full attention for the rest of the day. He noticed that her phone was turned off. He wondered aloud if it was because Shao Xi did not want Li Zheng to contact her to if she was afraid he was not contacting her. Right on! He hit the issue right on the nail. It is nice seeing the easy and simple dynamics between Shao Xi and Jin Li.




Li Zheng went to the Zhong residence and went inside Shao Xi’s room. He noticed all of her packed belongings. Mama Zhong came in and told him that Shao Xi was out with Jin Li. He asked if they fought because Shao Xi suddenly declared that she was moving back home. Li Zheng was silent and did not say anything in reply. Rude much?! Or maybe, it is just editing? Jin Li took Shao Xi to an outdoor cinema to fulfill his movie date promise. Sigh… This clearly was a closure scene for Jin Li. He put on the movie that played when they first met. They reminisced to their first meeting where Shao Xi cried and also to the convenience store meet up where he cried. Jin Li indirectly thanked her because he would be the same jerk if he had not met her. Shao Xi finally took back her words that accused him of not knowing how to like someone. Jin Li was satisfied that she finally recognized his feelings and found closure.




Jin Li then presented her with 2 gifts. The first was a recording of Bai Bai admitting that she lied about her kiss with Li Zheng. And another gift was Shao Xi’s recording doll that saved in its hand, a recording of Li Zheng’s confession. Realizing it was indeed Li Zheng’s voice, Shao Xi was stunned. In the next scene, Jin Li dropped Shao Xi home to her apartment. He declared that after this, he would not meddle in Shao Xi and Li Zheng’s affairs anymore. This was his last one. He then calmly, but sadly, left.




Shao Xi waited in her room. She searched for her phone inside her bag but realized that Jin Li still had it. She played with her recording doll and as she flashbacked to her confession scene by the river, she pressed on it and Li Zheng’s confession came on. She could not wait anymore and so she came down. Just then, she saw Li Zheng coming in. He walked purposely towards her. Shao Xi explained that she overreacted before and now knew that he was not dating Bai Bai. Suddenly, Li Zheng hugged her tight. He told her not to hide anymore, not to move away, not to worry him, not to leave his side, and finally, not to see him as a friend. Hmmm… So, how should she consider you? Shao Xi cried, tears of joy or relief, I reckon, and hugged him back. Finally!




Jin Li was in a KTV with his friends and Xiao Ciao. Ah Ke and Xiao Jian finally noticed that he was sulking alone in the middle of the room. Some friend!? A familiar tune came on and he started singing the song that reminded him of Shao Xi. He began flashbacking to memories of Shao Xi and without realizing it, his tears dropped. Xiao Ciao quietly listened and at the sign of Jin Li's tears, cut the song short. That woke Jin Li up and he left abruptly. Xiao Ciao followed suit. He rode his motorcycle and Xiao Ciao climbed up on the back. Jin Li told her to get off but she refused to. He told her not to regret it. He took her to a hotel room. He still asked if she would not regret it. Xiao Ciao confirmed that she would not. Jin Li was closing in when a tear suddenly drop to ruin the mood. He climbed off the bed and started describing his heartbreak. Xiao Ciao came onto his side and admitted that her heart too, was in pieces at the moment. Sigh… This scene is extra sad.




Jin Li came home but stayed outside the gate instead of going in. He imagined Li Zheng and Shao Xi acting all lovey dovey inside and dreaded the prospect. He even scolded himself for pushing them together. Lol. He finally came inside and in the living room, he saw Shao Xi eating breakfast alone. Jin Li was confused and asked where was Li Zheng. Shao Xi nonchalantly said he might be in his room. Jin Li was very surprised and loudly asked her to recount yesterday’s events. Shao Xi listed everything Li Zheng said but while she was still describing, Jin Li interrupted her and asked if Li Zheng confessed and if they were officially dating now. Shao Xi shook her head. I definitely understand Jin Li’s frustration; Li Zheng really does have an amazing self-control for his age. Li Zheng went upstairs to interrogate Li Zheng.




He rudely knocked on Li Zheng’s door while Shao Xi was putting her arms around him to hold him back. She let go when Li Zheng finally opened his door. Jin Li pushed in and locked the door behind him. Jin Li asked why he wasted his chance yesterday? Shao Xi went around her room and tried to get in from the balcony door. Jin Li pushed and prevented Li Zheng from opening the door. He offered some relationship advice to Li Zheng: how he needed to clarify his feelings and not hesitate. Li Zheng brushed him off as he felt it was only between him and Shao Xi only. Li Zheng escaped, guided Shao Xi back to her room, and closed the door behind him. Then, he gently approached Shao Xi and asked her out. Wow, I must admit; I like Li Zheng’s dramatic stares and thoughtful advances.


Li Zheng took Shao Xi back to their high school. They went inside Shao Xi’s classroom and Li Zheng wrote Einstein’s formula on Special Relativity on the board. He explained to Shao Xi that according to this theory, as long as one could surpass the speed of light, one could go back to the past. He then asked her if she were given a do-over, was there a particular day that she would revisit? Shao Xi could not come up with a particular time so she asked if Li Zheng had a day in mind. He confessed that he often entertained the idea of going back to the day Da Mao read her diary. Had he not run away and made a different decision, he wondered how differently would their relationship be now? For example, if he had also confessed then and there as he hugged and comforted her, if he had run to comfort her while she ripped pages off her diary, or finally, if he had agreed to date her when she asked him out that day by the river. Li Zheng said that had he done those things, he would not have so many regrets and Shao Xi too, would not shed so many tears because of him. But he realized that it was useless to regret since he could never defy the rules of physics and redo. So he decided to change the present him. He came closer to Shao Xi, wiped her tears, and kissed her gently. It is about time!
Comment
Flashbacks much?! I like how Li Zheng finally made a move but oh my, the flashbacks accounted to almost 10 minutes of the whole episode. This episode is draggy. Li Zheng’s confession scene is nothing extraordinary. Maybe it is because it dragged on for far too long so my excitement is just not as it was before. I felt that after everything the writer puts us through, that confession scene is below par. It lacks something... Note to write: maybe next time, faster romantic build-up please!
This episode raises few questions specifically on the topics of Bai Bai and Xiao Ciao – Jin Li loveline. It is clear that the writer’s intention is for Bai Bai to be the next antagonist; so let’s sit back and see if she will live up to her role. For one, I am looking forward to it. This is mainly because she is a fake cookie who plays dirty. Now, doesn’t that just already sound exciting? Please do not disappoint!




Taiwanese dramas are usually great with fan service. So I too, am hopeful that Xiao Ciao and Jin Li will get their happy ending too. I am really hoping for them. I would feel bad for them if they did not get together at the end.


Sabtu, 21 Oktober 2017

[RECAP/ IND] 稍息立正我愛你 (Attention, Love!) Ep. 12


Shao Xi keluar kamarnya satu pagi. Dia melihat kamar Jin Li dan teringat pengakuannya malam sebelumnya. Jin Li memberitahunya untuk perlahan-lahan memikirkan jawabannya dan dia rela menunggunya. Saat itu, Li Zheng keluar dari kamarnya untuk pergi ke sekolah. Dia bertanya apakah dia juga sedang menuju sekolah dan ketika dia menjawab ya, dia menyarankan agar mereka pergi bersama. Tarik napas panjang… Penulis yang terhormat, memang Li Zheng adalah pemeran utama tetapi tidak harus menekankannya sampai begitu. Setidaknya, beri Jin Li kesempatan dan biarkan Shao Xi dengan hati-hati merenungkan pernyatannya.




Dalam perjalanan, Shao Xi berhenti di sebuah pedagang jalanan yang menjual pernak-pernik kecil. Dia meminta untuk melihat satu kalung. Merasa menarik, Shao Xi tanya harganya. Penjual tersebut mengutip harga tinggi sebanyak NT $ 1200 (sekitar Rp.500,000) dan mengatakan bahwa dia akan memberi gantungan kunci gratis sebagai hadiah. Shao Xi memutuskan untuk tidak membelinya dan ingin mengembalikan ke tempatnya. Tapi Li Zheng menghentikannya dan meminta penjual untuk mengemasnya. Shao Xi membisikkan tidak perlu karena mahal dan dia tidak begitu menyukainya. Li Zheng mengatakan bahwa dia tidak pernah mengatakan akan menghadiahkan kalung itu kepadanya. Dia menginstruksikan penjual untuk mengemasnya dengan baik. Sesuai janji, penjual memberi gantungan kunci pada Li Zheng. Shao Xi tertegun. Dia bertanya untuk siapa kalungnya? Li Zheng merahasiakannya. Shao Xi mengeluh karena jelas itu adalah hadiah untuk seorang gadis. Li Zheng tersenyum nakal dan menawarkan gantungan kunci yang gratis. Shao Xi melihatnya dan menolaknya. Dia meninggalkan Li Zheng dan pergi terlebih dahulu. Li Zheng menunggu kalung itu dan berterima kasih pada si penjual. Dia terus tersenyum main-main di belakang Shao Xi.




Dalam perjalanan ke kelasnya, Shao Xi bertemu dengan Jin Li. Dia ingin berbalik tapi Jin Li menghentikannya. Jin Li bertanya mengapa dia menghindarinya. Jin Li menyuruhnya untuk tidak menghindar karena jika iya, dia akan merasa kalau pengakuan dirinya mengganggunya. Shao Xi mengaku kalau dia tidak yakin bagaimana berperilaku. Jin Li menyuruhnya untuk biasa saja memperlakukannya: sebagai senior yang ditugaskan. Sampai dia siap memberikan jawabannya, dia akan terus mengurus dan memperlakukannya dengan baik. Dia hanya meminta agar tidak dihindari. Mereka berdua bersepakat.


Shao Xi dan Jin Li berjalan bersama menuju kelas. Shao Xi bertanya mengapa dia berpura-pura menjadi seorang gadis di game. Jin Li mengaku sebenarnya punya identitas lain. Dia menyebutkan namanya dan Shao Xi sadar kalau Jin Li adalah pemain yang selalu menghinanya di game. Jin Li membela diri dan mengatakan kalau dia hanya memberi masukan yang membangun. Hahaha.... Dia penasaran betapa mahirnya dia bermain, sehingga dia menciptakan alias lain. Ketika mereka bertemu di kencan buta, barulah dia sadar siapa itu sasarannya. Shao Xi menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau hubungan naas mereka sebenarnya sudah mulai lama. Tarik napas panjang ... Lagi-lagi, penulis, mengapa tidak adil?




Shao Xi sedang memikirkan kejadian kalung tadi dan bertanya-tanya untuk siapa kalung itu. Menggoda dan bersenang-senang semua oke tapi jika itu menyebabkan gejolak salah paham yang panjang, hmmm... Tiba-tiba, Bai Bai memanggilnya. Duh... aku merasa akan ada kesalahpahaman lagi. Bai Bai mengatakan kepadanya kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya dan dia bercanda meminta hadiah dari Li Zheng. Dia terkejut, tapi sangat senang, karena Li Zheng mempersiapkan hadiah untuknya. Dia bertanya pada Shao Xi apakah dia ingin melihat hadiahnya. Dia ingin mengeluarkannya tapi Shao Xi berkata tidak perlu karena dialah yang membantu memilih hadiah ini. Aduh… Lihat saja! Cape deh salah paham terus. Li Zheng sebenarnya memberinya gantungan kunci jelek tapi Shao Xi berasumsi bahwa dia memberinya kalung itu. Bai Bai berterimakasih karena dia sangat menyukai hadiahnya. Hahaha... Cinta itu memang buta. Gantungan kuncinya jelek sekali. Bai Bai balik berkata kalau dia ingin memberikan hadiah balasan.




Li Zheng sedang duduk di kamarnya sambil mengagumi kotak berisi kalung yang disukai Shao Xi. Dia mendengar ketukan di pintunya dan merasakan bahwa itu adalah Shao Xi. Dia membuka pintu dan siap mempersembahkan hadiah. Tapi dia berhenti saat melihat Bai Bai ada di sisi Shao Xi. Bai Bai menyambut Li Zheng dengan ceria dan memberinya hadiah. Li Zheng segera menyembunyikan kotak hadiah itu dan bertanya apa yang dihadiahkan Bai Bai. Bai Bai meminta bantuan Shao Xi untuk menjelaskannya. Aduh... Aku mulai membenci karakter Bai Bai ini. Dia kalkulatif dan licik. Shao Xi menjelaskan kalau itu adalah balasan hadiah ulang tahun yang diberikan Li Zheng untuknya. Li Zheng mengambil tas itu dan tampak bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya. Tentu saja, seharusnya begitu. Sulit sekali menjadi Li Zheng saat ini karena dia harus melihat Shao Xi, gadis idamannya, berperan seperti mak comblang untuknya dan Bai Bai. Bai Bai mengundangnya untuk membuka bingkisan karena Shao Xi berkata kalau dia pasti menyukainya. Dia melakukan itu dan mengeluarkan sepasang headphone. Tarik napas panjang... Jelas, ini berdasarkan rekomendasi Shao Xi yang tahu persis berapa seringnya Li Zheng mendengarkan musik di waktu senggangnya. Li Zheng menatap Shao Xi dengan sangat tidak nyaman dan kemudian, dia mengucapkan terima kasih pada Bai Bai. Shao Xi permisi ke kamarnya dan Bai Bai berterima kasih pada Shao Xi. AKHIRNYA! Aku bahkan tidak akan menemani Bai Bai jika aku adalah Shao Xi. Li Zheng mengantar Bai Bai pulang dan keduanya pergi. Shao Xi masuk ke dalam kamarnya dengan putus asa.




Li Zheng berada di atap sambil melihat kotak kalung itu. Dia turun dan berpapasan dengan Jin Li yang sedang naik. Jin Li mengaku bahwa dia telah menyatakan perasaannya pada Shao Xi dan dalam dua minggu di perkemahan mahasiswa tingkat pertama, dia akan menanyakan tanggapannya. Li Zheng berkata kalau Jin Li tidak perlu mengumumkannya. Li Zheng menambahkan kalau Jin Li akan menyesal telah memberitahunya. Setuju sekali! Jin Li sama sekali tidak perlu berbagi dengan Li Zheng karena mereka bukan teman. Ini seperti memberitahu lawanmu untuk bersiap karena akan diserang. Tarik napas dalam...




Akhirnya hari perkemahan tiba, Jin Li, Ah Ke, dan Xiao Jian menangani masalah pendaftaran. Tiba-tiba mahasiswa dari Jurusan Bahasa Asing Terapan, departemen Li Zheng, datang menyiapkan meja tepat di samping mereka. Jin Li bertanya apakah Departemen Bahasa Terapan Terapan juga berkemah di hari yang sama. Teman-temannya menjawab ya dan itu semua kesalahan Jin Li karena tidak muncul di pertemuan sehingga dia tahu kejadian-kejadian di sekolah. Rupanya, perkemahan Bahasa Asing Terapan tertunda karena topan. Jadi junior dari departemen itu, maksudnya, Li Zheng, menyarankan dan mendapat persetujuan kedua departemen untuk berkemah bersama. Dia bahkan mengatur semua pemesanan perkemahan. Jin Li curiga bertanya-tanya siapa "junior" itu. Dan pas selagi dia berpikir, dia melihat Li Zheng tersenyum dengan licik. Nah, dia memang sudah memperingatkan kalau Jin Li pasti menyesal telah memberitahukan niatnya.




Xiao Ciao tiba dengan mobil sport kuningnya. Aku benar-benar terkejut mobil itu masih utuh. Dia melihat bis yang akan membawa semua ke tempat perkemahan dan memutuskan akan menyetir sendiri. Shao Xi mengingatkannya kalau lokasinya jauh dan dia akan menyesal menyetir sendiri. Tapi Xiao Ciao tidak mendengarkan dan langsung pergi. Shao Xi naik bis dan mulai mencari tempat duduk kosong. Dia melihat Li Zheng dan Jin Li duduk sendirian. Dia berpikir dan nampaknya hendak duduk di sisi Li Zheng. Tapi tengah jalan, Jin Li menangkap dan menyeretnya duduk di sampingnya. Bai Bai datang berikutnya. Dia melihat Li Zheng duduk sendirian dan segera menuju kursi kosong di sisinya. Dia bertanya apakah dia bisa duduk di sana dan Li Zheng dengan enggan memindahkan tasnya untuk memberi tempat. Shao Xi melirik Li Zheng tapi cepat-cepat memalingkan pandangannya saat ketahuan.



Di tempat berkemah, game pertama melepaskan label nama dimulai. Tim yang berhasil mengupas semua label nama-nama tim lawan dianggap sebagai pemenang. Permainan berlangsung seru dan yang berdiri terakhir adalah Jin Li dan Li Zheng. Keduanya berhasil mengambil label masing-masing pada saat bersamaan. Jin Li bersorak gembira tapi Li Zheng berdiri marah. Shao Xi terlihat khawatir menatap Li Zheng.




Xiao Ciao akhirnya tiba dan dia mencari Shao Xi yang sedang membersihkan beberapa sayuran. Shao Xi bertanya mengapa dia terlambat datang. Xiao Ciao mengakui bahwa tempat ini sangat sulit ditemukan. Dia juga mengatakan bahwa dia lapar dan apakah ada makanan untuknya. Shao Xi menawarkan sepotong paprika hijau namun Xiao Ciao tidak tertarik. Shao Xi menghiburnya bahwa akan ada makanan segera dan Xiao Ciao menawarkan bantuan. Tapi Shao Xi tidak menerima tawarannya karena dia bahkan tidak pernah mencuci sayuran sebelumnya. Hahaha... Memang seharusnya aku membenci Xiao Ciao yang manja tapi dia terlalu imut untuk dibenci.




Bai Bai juga mencuci sayuran dan bertanya apakah Li Zheng punya pacar. Shao Xi tertegun pada awalnya tapi kemudian, dia menjawab bahwa dia tidak tahu pasti. Shao Xi tidak merasa Li Zheng punya kekasih karena jika iya, pasti Li Zheng akan memberitahunya. Bai Bai kemudian memutuskan bahwa dia akan mengaku malam ini di api unggun. Xiao Ciao dengan acuh tak acuh menanyakan siapa dirinya dan apakah mereka cukup dekat untuk bisa berbagi informasi semacam itu. Bai Bai tidak memperdulikan dan terus menjelaskan bahwa itu adalah tradisi universitas untuk menyatakan perasaan pada malam api anggun. Xiao Ciao mendapat ide. Shao Xi hanya diam berdiri di sana dan tidak yakin apa yang harus dilakukannya saat Bai Bai terus menjelaskan kalau dia merasa dekat dengan Shao Xi dan ingin bantuannya karena dia adalah teman baiknya Li Zheng. Hmmm... Dasar ular!


Li Zheng sedang duduk di meja bersama teman-temannya. Bai Bai datang untuk menambahkan makanan ke meja. Salah satu teman mereka berkomentar kalau Li Zheng tidak makan. Dia hanya tersenyum lembut. Bai Bai mengambil semangkuk makanan dan menyajikannya ke Li Zheng. Li Zheng berterimakasih tapi mengatakan bahwa dia tidak makan makanan yang diambil oleh sumpit orang lain. Ya, beritahu dia Li Zheng! Gadis ini perlu diletakkan di tempatnya. Li Zheng kemudian meninggalkan meja makan. Shao Xi melihat Li Zheng berjalan pergi dan mulai khawatir. Shao Xi meraih sepotong roti dan mengikutinya. Shao Xi benar-benar mengenal Li Zheng dengan baik. Memang perlu diakui keunggulan keluarga. Xiao Ciao berteriak memanggil Shao Xi dan dengan secara tidak langsung, memberi tahu Jin Li. Ah, suka duka cinta lima persegi.




Shao Xi mendekati Li Zheng yang sedang duduk sendirian dan memberinya sepotong roti. Dia bertanya mengapa dia ikut berpartisipasi kalau sudah tahu tidak suka makan bersama orang lain. Li Zheng teringat akan Jin Li yang akan meminta jawaban Shao Xi atas pengakuannya. Dia sepertinya diam-diam mengkhawatirkan hal ini tetapi justru Shao Xi salah paham dan mengira dia ikut untuk Bai Bai. Cape dech… Li Zheng tidak menjawab apa-apa tapi dia terkejut menatap Shao Xi. Dia terus berkata tentang Li Zheng yang memberikan hadiah padanya, selalu membiarkannya berada di sisinya, dan baru-baru ini, bahkan menyimpan tempat untuknya di bis. Semakin banyak Shao Xi merincikan pemikirannya, semakin kaget Li Zheng terlihat. Shao Xi menyimpulkan kalau Li Zheng tidak pernah memperlakukan seorang gadis sebaik Bai Bai sebelumnya jadi dia pasti sangat menyukainya. Shao Xi menambahkan kalau Li Zheng tidak setia kawan karena sebagai teman baik, dia tidak pernah bercerita apa-apa. Dia bertanya apakah dia tidak bercerita karena khawatir menyinggung perasaan Shao Xi. Dia meyakinkannya kalau itu semua adalah masalah SMA. Shao Xi tidak menyukai Li Zheng lagi.




Li Zheng mulai terlihat marah. Dia berdiri dan bertanya apakah Shao Xi suka pada Jin Li sekarang. Sekarang giliran Li Zheng salah berkesimpulan: kalau Shao Xi suka pada Jin Li dan tidak berniat membagi perasaannya sampai dia sudah berkencan dengan Jin Li. Aku benci semua kesalahpahaman ini. Shao Xi bertanya mengapa dia bersikap galak. Shao Xi membenarkan kalau Jin Li mengajaknya berkencan tapi itu bukan urusannya. Li Zheng dengan tajam bertanya padanya apakah Shao Xi benar-benar tidak pernah goyah karena Jin Li. Li Zheng menyinggung saat Jin Li memeluknya di depan gedung. Dia berpendapat kalau dia tidak mengatakan apa-apa, pastinya Shao Xi akan terus membiarkan Jin Li memeluknya. Li Zheng bertanya padanya apa artinya itu.




Shao Xi bertanya atas dasar apa dia meminta penjelasan. Apakah sebagai teman, keluarga, atau... Li Zheng membuang muka dan hanya menyuruhnya untuk tidak jatuh cinta dengan Jin Li karena dia tidak cukup baik untuknya. Kenapa sih tidak langsung saja berkata kalau kau menginginkannya dan suka padanya?! Kau tidak berhak mengatakan apa-apa kalau belum meresmikan hubungan. Tunggu apa lagi? Sedikit aneh memang kalau dipikir kenapa semuanya tiba-tiba lupa kalau mereka itu sudah tunangan. Li Zheng kembali memasukkan dirinya di zona pertemanan: dia berkata sebagai teman, dia tidak ingin melihat Shao Xi terluka. Shao Xi akhirnya menegaskan perasaannya untuk Jin Li; apakah dia suka padanya atau tidak, itu bukan urusan Li Zheng. Rasakan! Akhirnya, Li Zheng sekarang bertanya-tanya apakah dirinya sudah terlambat. Teruslah menunda-nunda. Nantinya gadismu akan lari ke perlukan yang lain.


  


Api unggun yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Atau juga bisa dikenal sebagai duka cinta lima persegi: Bai Bai mendekati Li Zheng, Li Zheng menuju ke Shao Xi, Xiao Ciao bergerak menuju Jin Li, dan Jin Li tentu saja, langsung menuju ke Shao Xi. Kedua anak laki-laki itu mengulurkan tangan mereka untuk mengundang Shao Xi menari bersama. Dan seperti biasa yang terjadi di perkara seperti ini, tidak ada yang lolos dari masalah ini bahagia. Shao Xi akhirnya tidak memilih dan langsung menuju pada Xiao Yu. Jin Li sebentar menari dengan Xiao Ciao namun berhenti mengikuti Shao Xi yang mengikuti Bai Bai mengikuti Li Zheng. Xiao Yu dan Xiao Ciao terdiam di lantai dansa.


  


Shao Xi mengikuti Li Zheng dan Bai Bai ke daerah kamar-kamar dan melihat pengakuan Bai Bai. Dia kabur setelah melihat Bai Bai memeluk Li Zheng. Bai Bai mulai bermain jahat di sini. Mengapa dia memeluk Li Zheng sebenarnya karena dia tahu jelas kalau Shao Xi sedang mengintip. Shao Xi pergi untuk menghibur dirinya sendiri. Dia terus mengingatkan dirinya untuk berbahagia bagi sahabatnya. Tapi dia sadar kalau dirinya belum siap menghadapi ini. Tarik napas dalam... Kapan sih ini akan berakhir? Kalau saja Shao Xi mengintip satu setengah menit lebih lama, dia akan melihat Li Zheng menolak pengakuan Bai Bai dan berjalan menjauh darinya.




Shao Xi berlari kembali ke daerah kamar-kamar untuk mencari Li Zheng tapi dia tidak melihatnya. Jin Li datang untuk menghiburnya. Awalnya, Shao Xi membuang muka tapi Jin Li memeluknya. Dia berkata kalau dia tidak akan membiarkannya menangis sendirian atau melarikan diri setiap kali dia ingin menghiburnya. Mereka pergi ke sudut perkemahan yang lain dan Jin Li mengaku kalau pada awalnya dia ingin menagih jawaban dari pernyatannya. Tapi sekarang, dia berubah pikiran dan memutuskan untuk berperan sebagai teman. Jin Li bertanya kalau Shao Xi masih menyukai Li Zheng, mengapa dia menolak ajakannya untuk menari? Kenapa dia tidak tahu kalau Li Zheng juga menyukainya? Memang benar-benar aneh mengapa sang penulis membuat Li Zheng dan Shao Xi begitu tidak sadar.


Xiao Yu melihat foto Ru Ping di ponselnya saat seorang gadis meminta untuk duduk di sampingnya. Dia bertanya apakah Xiao Yu tertarik untuk berkencan dengannya karena dia tertarik padanya. Xiao Yu menatapnya dengan tak percaya.




Ah Ke dan Xiao Jian berbelanja di toko terdekat untuk melangsungkan satu pesta rahasia di ruang dewan murid. Mereka mengundang Shao Xi untuk bergabung dengan mereka. Di pesta tersebut, empat dari lima karakter cinta lima persegi muncul: Jin Li, Shao Xi, Bai Bai, dan Li Zheng. Li Zheng mendengar rencana Ah Ke dan Xiao Jian yang ingin membuat Shao Xi mabuk supaya dirinya setuju berkencan dengan Jin Li. Ini sangat tidak oke! Untung Li Zheng mendengar ini jadi ketika rencananya mulai bergulir, dia mengacaukan rencana dan menjadi ksatria hitamnya (yaitu, orang yang menggantikan menerima hukuman dari satu permainan, biasanya hukumannya adalah minum minuman keras). Li Zheng memang tidak bisa minum, dan tentu saja, dia menjadi mabuk. Dan saat dia mabuk, Li Zheng gila muncul. Dia meraih kerah Ah Ke dan membantingnya ke pintu. Shao Xi datang menenangkan masalah dan adegan akrab antara Shao Xi dan Li Zheng berlangsung. Ini jelas membangkitkan kecemburuan Bai Bai dan Jin Li.




Ru Ping sedang bersantai di kamarnya saat menerima telepon dari Xiao Yu. Dia berkata kalau tempat berkemah mereka dekat sekolahnya jadi dia ingin datang berkunjung. Dia mempersembahkan sebuah karangan bunga dan mengaku kalau dia baru saja menerima satu pengakuan cinta tapi selama pengakuan itu berlangsung, yang dia pikirkan hanyalah Ru Ping. Dia berkata kalau dia sangat menyukainya, akan terus suka padanya, dan langsung berangkat pulang. Hahaha... Oke, dia pantas mendapat ciuman setelah pengakuan seperti itu. Xiao Yu berbalik dan berjalan dengan sengaja menuju Ru Ping; mendorongnya ke sebuah pilar. Tapi ini hanyalah komedi anticlimax! Dia terlihat mencondongkan tubuh untuk mencium, tapi akhirnya dia hanya bertanya apakah Ru Ping bisa meminjamkan uang karena dia lupa membawa dompet. Hahaha... Ru Ping tepat sekali mengusirnya.




Di satu ruangan, Shao Xi memasukkan Li Zheng ke tempat tidur. Dia berniat meninggalkannya tapi kemudian Li Zheng meraih tangannya. Yipeee... Dia menyuruhnya untuk tidak pergi, menyatakan perasaannya, dan menciumnya. Akhirnya! Aku hanya berharap mereka tidak menjadi clueless lagi keesokan harinya dan melupakan ciuman ini. Li Zheng terbangun dan melihat Bai Bai. Bai Bai bohong dan berkata kalau dialah yang menenangkan Li Zheng dan membawanya ke ranjang. Dia bahkan mengklaim kalau Li Zheng menyatakan perasaannya dan menciumnya. Bai Bai bertanya apakah pernyataan dia benar-benar tulus. Li Zheng menjadi bingung karena dia ingat dengan jelas kalau Shao Xi-lah yang melakukan itu  semua. Tapi anehnya, Li Zheng malah menarik leher Bai Bai dan mendekatinya. Shao Xi masuk pas saat Li Zheng sedang melakukan itu dan langsung bergegas keluar dengan kecewa. Jadi tentu saja, dia tidak melihat Li Zheng yang melepaskan Bai Bai dan tidak menciumnya. Dan kesalahpahaman terus berlanjut. Shao Xi berlari menuju kamarnya sambil menangis terisak-isak. Duh, kemana sih Zhong Ke yang keren itu?! Sebagai tunangannya, Shao Xi berhak dan seharusnya menegur Li Zheng!


  


Keesokan paginya, Shao Xi duduk untuk sarapan bersama Jin Li. Jin Li mengilas balik saat dia melihat Li Zheng dan Shao Xi ciuman. Jin Li melihat Shao Xi bermata bengkak dan bertanya apa yang terjadi. Xiao Ciao duduk di antara mereka dan menghentikan pembicaraan. Ketiga sekawan ini duduk terdiam. Li Zheng masuk ke ruang makan, Bai Bai melihatnya dan mengucapkan selamat pagi. Li Zheng mengabaikannya dan langsung pergi menuju Shao Xi. Dia memanggil Shao Xi tapi Bai Bai memotong sambil bertanya kemana Shao Xi pergi kemarin malam setelah berkata akan sama-sama mengurus Li Zheng. Shao Xi teringat lagi kejadian hampir ciumannya Li Zheng dan Bai Bai dan menjadi tertekan lagi. Shao Xi dengan ketus menjawab kalau dia rasa Bai Bai-lah yang lebih cocok untuk merawat Li Zheng jadi dia tidak ingin mengganggu. Baik Jin Li dan Li Zheng bingung dengan jawabannya.


  


Shao Xi duduk di bus dan Bai Bai masuk untuk menanyakan apakah dia bisa duduk di sampingnya. Shao Xi mempersilahkannya dan dia duduk. Dia berterima kasih pada Shao Xi karena telah menciptakan kesempatan baginya. Dia mengaku tadi malam, Li Zheng telah menyatakan perasaannya dan menciumnya. Dasar licik! Dia bahkan bertanya kepada Shao Xi, sebagai teman dekatnya, apakah Li Zheng benar-benar memiliki perasaan untuknya karena telah mengaku dan menciumnya. Hmmm... Datanglah Xiao Ciao, dia menunggu di samping sambil mendengar Shao Xi yang dengan pahit mengaku kalau dia tidak pernah melihat Li Zheng jatuh cinta atau berkencan sebelumnya, jadi jika dia benar menciumnya, berarti artinya dia menyukainya. Xiao Ciao lalu dengan kasar bertanya apakah Bai Bai sudah selesai berbicara, menjambak rambutnya dan menariknya keluar dari tempat duduk. Xiao Ciao memang keren! Dia berkata kalau kursi di samping Shao Xi adalah miliknya dan langsung duduk di kursi yang sekarang kosong. Bagus! Tapi tentu saja, Bai Bai masih pura-pura menjadi gadis yang baik dan berterima kasih pada Shao Xi yang telah memperjelas masalah. Xiao Ciao mengingatkan Shao Xi agar tidak menangis karena jelas Bai Bai sedang mempermainkannya. Nah, itulah teman sejati yang setia. Xiao Ciao benar-benar sudah menjadi salah satu karakter favorit di drama ini. Dia sangat keren.




Mereka akhirnya kembali ke sekolah. Li Zheng menunggu di luar bus untuk mencegat Shao Xi. Shao Xi melihatnya tapi langsung belok untuk menghindarnya. Li Zheng menangkap tangan Shao Xi dan berkata kalau dia ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Xiao Ciao sadar kalau Shao Xi sedang enggan berbicara jadi dia langsung mengusir Li Zheng. Dia berkata kalau Shao Xi tidak ada kata-kata untuknya. Dia juga menasihatinya untuk memeriksa mata karena penglihatannya bermasalah. Hahaha... Aku cinta karakter ini. Dia kemudian langsung menarik Shao Xi pergi.




Bai Bai datang menghampiri dan berkata kalau dia ketinggalan anting di kamar Li Zheng. Dia beralasan kalau itu adalah hadiah berharga dari ibunya. Tarik napas dalam... Dia bertanya apakah dia bisa mampir untuk mencarinya. Shao Xi dan Xiao Ciao pulang bersama. Xiao Ciao marah padanya karena Shao Xi tidak pernah menceritakan perasaannya untuk Li Zheng. Masih murung, Shao Xi meminta agar mereka tidak membicarakan Li Zheng lagi. Kedua gadis itu lalu berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Jin Li juga dalam perjalanan pulang dan dia melihat Shao Xi pulang sendirian.




Bai Bai dan Li Zheng jalan bersama dan Bai Bai mengumumkan meskipun dia ditolak kemarin, dia tidak ingin menyerah. Li Zheng menekankan kalau jawabannya tidak berubah. Bai Bai lalu bertanya mengapa saat dia berkata mereka berciuman kemarin, Li Zheng mendekat. Li Zheng menjelaskan bahwa dia hanya ingin memastikan perasaannya. Dia menegaskan kalau dia benci bersentuhan dengan orang lain. Satu-satunya orang yang bisa merawatnya dan tidak akan dia usir hanyalah Shao Xi. Dia juga membongkar kebohongannya dan berkata kalau dirinya sadar Shao Xi-lah yang dia cium. Bai Bai lalu bertanya mengapa dia membiarkannya berada di sisinya dan memberinya hadiah jika dia tidak menyukainya. Hmmm ... Dia tidak mengizinkanmu berada di sampingnya, kalian berdua berada di kelompok studi yang sama. Dan siapa yang menganggap gantungan kunci jelek itu hadiah?! Li Zheng bahkan tidak menjelaskan dan hanya membuang muka. Bai Bai dengan ketus menyimpulkan bahwa itu pasti untuk membuat Shao Xi cemburu. Bai Bai melihat Shao Xi dan Jin Li pulang bersama jadi langsung dia menarik Li Zheng dan mencium pipinya. Tarik napas dalam…
Komentar


Ada yang menarik tentang perkembangan romantis yang lambat. Beberapa drama favoritku menonjolkan alur cerita tarik ulur yang tidak mudah untuk karakter utama dan juga untuk para penonton. Niat romantis untuk pasangan utama itu terang-terangan ada tapi ada sesuatu yang halus yang menarik perhatian masokis dalam diriku sehingga aku rela menderita berminggu-minggu sambil bertanya kapan ya atau iya kah? Kebanyakan, aku melahap semua ini karena memang kecanduan akan perasaan tersipu dan deg deg-an yang didapat dari sentuhan sederhana, senggolan, atau pandangan sekilas. Persis seperti saat Li Zheng mengambil dan menahan tangan Shao Xi saat mabuk, sebelum dia menyatakan perasaannya dan mencium Shao Xi. Wah, kupu-kupu sekali! Lebih suka lagi saat bisa masuk ke jiwa karakter dan mulai mempertanyakan apakah dia suka padaku atau tidak. Salah menanggapi satu interaksi, bercumbu-cumbuan, dan bolak-balik dari teman ke kekasih. Wah... Kecanduanku! Tapi walaupun begitu, aku masih menuntut drama yang kutonton untuk mendorong alur ceritanya. Satu aspek yang drama satu ini terlalu remehkan.




Untungnya sepertinya sudah membaik di episode ini. Sepertinya episode ini sangat penting (aku harap ya!). Episode ini sebenarnya menampilkan satu perkembangan antara Li Zheng dan Shao Xi. Memang lebih seperti perpisahan daripada pendekatan. Tapi setidaknya ini adalah sebuah perkembangan. Seperti kata pepatah: "dua langkah maju satu langkah mundur".


Aku masih merawat luka hatiku karena pengembangan karakter Shao Xi. Aku kesal sekali melihat Zhong Ke yang keren sekarang jadi cengeng. Aku masih mendambakan seorang karakter drama wanita yang bisa kukagumi. Mungkin dia akan kembali membaik pada akhirnya. Tapi untuk saat ini, setidaknya aku masih punya Xiao Ciao. Dan oh, betapa cabe rawitnya dia!